Sejarah Bengkulu dalam Liku Cinta dan Perlawanan, Hadir di Novel “Tansa dan Rana”

0
251

RAKYAT DAERAH – Sejarah bukan hanya catatan tentang nama besar, perjanjian antarnegara, atau pasukan bersenjata. Sejarah juga tersusun dari napas orang-orang biasa yang mempertahankan ruang hidupnya dengan cara sederhana: menjaga kampung, menjaga martabat, menjaga harapan. Inilah napas yang berusaha dihidupkan kembali dalam novel “Tansa dan Rana: Perjanjian London 1824.”

Novel ini mengangkat latar masa ketika Inggris dan Belanda menandatangani Perjanjian London 1824, sebuah kesepakatan internasional yang mengubah peta kekuasaan Asia Tenggara. Salah satu daerah yang terdampak langsung adalah Bengkulu, yang saat itu berpindah dari Inggris ke Belanda.

Namun, buku-buku sejarah jarang bicara tentang bagaimana rakyat biasa merasakan pahit getir masa itu. Di sinilah kisah Tansa dan Rana bergerak.

* Kisah tentang Cinta, Perjalanan dan Perlawanan

Tansa digambarkan sebagai seorang pemuda dari pesisir kampung, yang perlahan terseret dalam pusaran perjuangan mempertahankan tanah kelahiran.

Rana, perempuan yang mengajar anak-anak kampung membaca dan menulis, mengambil peran sebagai penjaga cahaya, memelihara harapan di tengah bayang-bayang pergantian kekuasaan.

Hubungan keduanya bukan sekadar romansa, tetapi cinta yang lahir dari luka, rindu, dan tanggung jawab kepada tanah sendiri. Novel ini mengalirkan suasana:

• rapat adat di rumah panggung pada malam hari

• pelabuhan yang dipenuhi pedagang rempah

• bisik-bisik strategi dalam gelap

• perempuan-perempuan yang menjadi penjaga ilmu dan ingatan Narasinya lembut, tapi penuh tenaga.

Ditulis dari Observasi dan Penelitian Selama Hampir Satu Tahun Penulisan novel ini bukan proses yang singkat. Penulis menghabiskan hampir satu tahun melakukan:

• observasi langsung di kampung-kampung tua pesisir utara

• membaca arsip dan catatan sejarah

• berbincang dengan tetua adat

• dan merenungi simbol-simbol perjuangan yang masih hidup dalam tradisi lokal

“Saya tidak ingin hanya menulis cerita. Saya ingin menyambung napas masa lalu yang hampir terputus,” ujar penulis.

Ia membawa pendekatan sejarah dari tubuh dan ingatan, bukan hanya catatan di kertas. Inilah yang membuat cerita terasa hidup.

Penulis yang Konsisten Mengangkat Sejarah Pesisir Bengkulu

Penulis novel “Tansa dan Rana: Perjanjian London 1824” bukan pendatang baru.

Ia telah menulis lebih dari enam novel yang banyak mengambil latar budaya dan sejarah Bengkulu, terutama wilayah pesisir utara- kawasan yang sejak dulu menjadi jalur lada, pertemuan pelaut, dan ruang perlawanan.

Konsistensinya mengangkat kisah perjuangan rakyat Bengkulu bukan untuk romantisasi masa lalu, tetapi untuk menjadikannya sumber kekuatan masa kini.

“Perjuangan dulu adalah alasan kita masih berdiri hari ini. Saya hanya mencoba mengingatkannya,” katanya.

Belum Terbit-Membuka Ruang Kolaborasi

Saat ini, novel belum diterbitkan secara luas. Penulis membuka ruang:

• dukungan komunitas budaya

• kerjasama dengan penerbit

• diskusi dengan akademisi dan pemerhati sejarah

• serta pembaca yang ingin ikut menjaga memori Bengkulu

Karya ini lahir bukan hanya untuk dinikmati — tetapi untuk dihidupkan bersama.

Tentang Penulis

Penulis adalah pemerhati sejarah dan kebudayaan pesisir Bengkulu, dengan fokus pada narasi perjuangan rakyat, pelayaran, dan identitas lokal. Ia telah menulis lebih dari enam novel berlatar sejarah dan tradisi Bengkulu, dengan konsistensi menghadirkan kembali cerita-cerita yang nyaris terlupakan.

Karyanya berusaha menghubungkan masa lalu dan hari ini melalui bahasa yang hangat, sederhana, dan penuh empati.

Di tengah arus zaman yang bergerak begitu cepat, jejak sejarah seringkali perlahan menghilang dari percakapan sehari-hari.

Padahal, di sanalah akar yang menjaga kita tetap berdiri. Untuk itu, novel ini juga membuka ruang bagi perorangan, keluarga, dan pelaku usaha yang merasa memiliki panggilan hati untuk menjaga literasi sejarah Bengkulu.

Bukan semata sebagai bentuk dukungan produksi karya, tetapi sebagai tindakan merawat ingatan kolektif-agar kisah-kisah tentang perjuangan, martabat, dan keberanian rakyat tetap hidup dalam benak generasi berikutnya.

Dukungan bisa mengambil banyak bentuk:

• membantu penyebaran karya ke sekolah dan komunitas baca

• menjadi sponsor kelas diskusi dan bedah buku

• atau sekadar menjadi bagian dari perjalanan penerbitan novel ini, Karena sejarah tidak hanya dijaga oleh arsip dan monumen.

Ia juga dijaga oleh hati orang-orang yang memilih untuk tidak membiarkannya hilang.

Bagi mereka yang percaya bahwa identitas adalah warisan, maka menghadirkan sejarah melalui cerita adalah salah satu bentuk penjagaannya yang paling halus dan paling dalam. (Romansyah Sabania).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here