Oleh : Ronal Reagen
ESSAY Dari Tuhan menuju To Hand ( Baca Tuhen) ini adalah sebuah kritik atas kepemilikan teknologi yang terkonsentrasi di tangan beberapa orang/korporasi, beberapa negara saja ( To Hand) . Sedangkan mayoritas penduduk bumi, mayoritas negara, diarahkan menjadi kerumunan massa target pasar, yang mengkonsumsi apa saja yang telah diciptakan oleh To Hand ini. To Hand secara sederhana bisa diterjemahkan sebagai segala sesuatu telah berada di tangan, telah diambil alih oleh beberapa tangan / segelintir orang saja.
Sebagai pondasi, saya kira paragraf awal ini seterusnya akan menjadi landasan bagi penjelasan pada essay ini.
Sebagai penjelasan awal saya akan berargumen bahwa, dalam model kemerosotan moral, sebagai bentuk lahirnya fetesistik di ruang publik adalah kehadiran para pejabat yang terpilih secara demokratis, namun tidak melakukan kerja-kerja mendasar demi menyelamatkan warga dari gempuran teknologi. Kita bisa melihat, seorang Pejabat, bisa saja membangun kota penuh cahaya, ruang publik yang sehat, momentum menyelamatkan manusia sebagai lapisan bawah yang mengisi dan menikmati ruang publik dengan penuh kehormatan adalah tugas penting dan terbatas. Maka tidak jarang kita menyaksikan saat membicarakan keberhasilan pembangunannya, para pejabat tidak berguna, akhirnya bercerita berapa meter beton yang telah dia cor, atau berapa lampu taman kota yang telah dia hidupkan, dan ini tidak menyisakan cerita, bahwa kehadirannya mampu menggerakkan ekonomi masyarakat pinggiran, memperjelas jalur distribusi kekayaan sampai lapisan terbawah, atau sejak kehadirannya, dunia pendidikan dan protein warga menjadi kebijakan yang paling penting. Sebagaimana dikritik oleh Karl Marx dalam buku “Kapital” (terjemahan Hasta Mitra, 2004), pembangunan semacam ini terjebak pada “fetisisme komoditas” — pemujaan terhadap benda mati yang mengabaikan relasi sosial dan harkat manusia di baliknya.
Dalam diskursus masa depan kemanusiaan, Yuval Noah Harari melalui “HomoDeus” (Alvabet, 2018) melemparkan sebuah pertanyaan eksistensial yang menggugat inti terdalam keberadaan kita mengenai ke mana langkah kita selanjutnya; apakah kita sedang merevisi proyek kebahagiaan? mengejar keabadian? atau justru sedang merakit agama baru bernama Dataisme yang menempatkan algoritma di atas segalanya? Narasi Yuval yang provokatif, setidaknya memberikan kita sedikit cahaya untuk meraba kemaha-gelapnya masa depan. Atau pandangan Yuval sendiri menjadi semacam dorongan bagi kita untuk membawa argumentasi yang lebih radikal dalam melihat otoritas, sebuah transmutasi dari konsep Tuhan yang transendental menuju “To Hand” yang teknokratis, di mana jika dahulu hidup dan mati berada dalam domain sakral, kini ia ditarik paksa ke dalam laboratorium sebagai peristiwa berhentinya sistem mekanis tubuh yang “dianggap” bisa dikendalikan sepenuhnya. Saya rasa ini menjadi persilangan dialektis yang sangat tajam antara filsafat sejarah dan kenyataan biologis, sebuah momen di mana upaya manusia menjadi “dewa” sebenarnya berakar pada landasan materialistik yang pernah diperdebatkan secara sengit oleh Marx dan Hegel.
Sebagaimana Marx dan Engels dalam “Ideologi Jerman” ( Marxis.org) membalikkan dialektika Hegel dengan menegaskan bahwa bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaan mereka, melainkan keberadaan sosial dan ketersediaan material mereka yang menentukan kesadaran. Argumentasi Marx dan Engels mendorong kita untuk melihat persoalan akal budi tidak jatuh dari langit sebagai entitas murni (hadiah utuh begitu adanya), melainkan dibentuk oleh jumlah protein, nutrisi, dan infrastruktur ekonomi yang nyata. Rasionalisasinya adalah bahwa; Kecerdasan dan kemampuan sensorik manusia dalam memahami dunia adalah produk dari kondisi material yang memadai, sebuah “basis” yang memungkinkan “bangunan atas” berupa pikiran dan teknologi itu berdiri tegak, sehingga tanpa ketersediaan protein yang cukup, gagasan-gagasan besar tentang kebebasan dan ketuhanan hanyalah kenyataan pahit dari perut yang lapar atau kekurangan material untuk tumbuh dan berkembang, baik secara biologis maupun secara sosial ekonomi.
Perubahan dari kata Tuhan menuju “To Hand” ini mengisyaratkan bahwa segala sesuatu kini diupayakan untuk berada dalam jangkauan kendali manusia — kita boleh mencurigai ini sebagai kesombongan. Setidaknya saat para ilmuwan mulai memasuki laboratorium mereka untuk membedah kode-kode kehidupan yang selama ini dianggap rahasia ilahi. Kita bisa menuduh fenomena ini sebagai puncak dari ketiadaan Being of God, di mana posisi Tuhan secara matematis berusaha atau berada diposisi “telah” digantikan oleh manusia yang memegang alat kendali — sekali lagi ini adalah persepektif perkembangan teknologi, yang suatu saat bisa saja berubah. Sebuah ambisi untuk mengubah nasib biologis menjadi pilihan teknis semata. Namun, di balik ambisi besar tersebut, kita atau setidaknya saya sebagai penikmat teknologi, mengajukan pertanyaan; apakah perkembangan manusia menuju puncak “Homo Deus” benar-benar sebuah kemajuan, ataukah kita sebenarnya terjebak dalam permainan yang kita ciptakan sendiri di dalam labirin lab-lab bioteknologi ini?
Dasar pertanyaan tersebut adalah “Kita berusaha menemukan Tuhan di dalam untaian DNA dan barisan kode biner, namun yang kita temukan hanyalah pantulan dari keangkuhan kita yang ingin menggantikan otoritas absolut dengan otoritas “tangan” yang fana. Ketidakmampuan kita untuk keluar dari labirin ini secara baik menunjukkan bahwa kedaulatan manusia atas teknologi mungkin hanyalah sebuah ilusi yang menyembunyikan kerapuhan eksistensial kita di hadapan sistem yang semakin mekanis dan impersonal.”
Persoalan menjadi semakin rumit dan kontradiktif jika kita meninjau ketersediaan material ini dari sudut pandang ekonomi-politik, di mana pemenuhan kebutuhan dasar tidak lantas menghentikan hasrat manusia untuk menumpuk lebih banyak, yang kemudian menjadi dasar kelahiran kelas kapitalis. Hegel dalam mahakaryanya “Fenomenologi Jiwa” (terjemahan M. Murtadho dkk, Pustaka Pelajar 2004) mungkin akan membantah dengan argumen bahwa surplus makanan dan minuman seharusnya memungkinkan energi manusia dialihkan pada kegiatan jiwa yang lebih mulia, seperti seni, filsafat, dan kerjasama warga negara demi mencapai kebebasan. Namun, dalam kenyataannya, surplus tersebut justru memicu konsentrasi kekayaan yang luar biasa di tangan segelintir penguasa modal, yang tidak lagi melihat makanan sebagai nutrisi bagi akal budi, melainkan sebagai komoditas untuk memperluas dominasi. Ini adalah babak baru yang membuka kekusutan — dogma yang disengaja oleh kesenangan primer manusia sebagai homo kolektif.
Apakah kekusutan ini selanjutnya akan memicu pertarungan abadi antara visi Hegel tentang kemajuan jiwa dan peringatan Marx tentang eksploitasi material, di mana dalam masyarakat modern, teknologi “To Hand” bukan lagi alat untuk membebaskan manusia dari beban kerja, melainkan instrumen baru untuk memperbudak kesadaran melalui algoritma yang haus data?
Mari kita kembali ke tanah kita Indonesia. Jika kita merefleksikan kondisi ini pada manusia Indonesia kekinian, kita masih menemukan lebarnya jurang antara ambisi menjadi bangsa digital dan rapuhnya fondasi materialistik kita. Di tengah gempuran narasi kecerdasan buatan dan modernitas, kita masih bergulat dengan masalah purba seperti stunting dan malnutrisi yang secara langsung mengancam kualitas sel-sel otak generasi masa depan sebagaimana yang diperingatkan oleh teori materialisme Marx. Kontradiksi ini menciptakan sebuah “labirin” sosial di mana segelintir elite sibuk merakit masa depan dengan teknologi “To Hand”, sementara mayoritas rakyat masih terjebak dalam perjuangan untuk memenuhi standar protein dasar agar akal budi mereka tetap sanggup berfungsi secara layak. Bangsa Indonesia seolah dipaksa melompat menuju status “Homo Deus” tanpa pernah benar-benar menyelesaikan persoalan mendasar sebagai Sapiens, sehingga seolah-olah kemajuan teknologi bukanlah DNA kita, bukanlah perkembangan ontentik kita, tetapi kulit luar yang menutupi keroposnya basis material di tingkat akar rumput.
Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa bangsa yang tidak akrab dengan industri dan tidak memiliki tradisi kuat dalam penemuan teknologi baru akan selalu berada dalam posisi yang rentan terhadap “sistem kode teror” yang dijalankan oleh para raksasa teknologi global. Tentu kita akan bersepakat bahwa bangsa yang hanya puas menjadi konsumen akan kehilangan kestabilan dan kemandiriannya, karena identitas mereka kini tidak lagi ditentukan oleh kehendak bebas, melainkan oleh algoritma yang mendikte selera, opini, hingga pilihan politik — saya pikir ini kekacauan yang disengaja.
Kita menyaksikan bagaimana manusia Indonesia keseharian hidup dengan gadget, tapi apakah kebiasan ini berbanding lurus dengan pemahaman mendalam tentang bagaimana sistem tersebut bekerja untuk mengontrol perilaku. Jika pemahaman tidak terbentuk, maka proses alienasi modern yang lebih ngeri dari apa yang dibayangkan Marx menjadi tidak terbendung — sebuah kondisi di mana manusia merasa memegang kendali (to hand), padahal secara material sedang digiring masuk ke dalam kandang digital yang dirancang untuk memeras nilai ekonomi dari setiap interaksi sosial.
Lebih jauh lagi, bagi bangsa yang tidak mampu bersaing dalam kancah inovasi bioteknologi dan AI, masa depan menawarkan prospek yang menyedihkan sebagai “kelas yang tidak berguna” dalam proyek peradaban modern — ini argumentasi yang sangat menakutkan dari Yuval dalam Homo Deus. Siapapun hari ini, mungkin tidak lagi dieksploitasi seperti buruh pabrik di abad ke-19 atau era-era kolonialisme, namun akan dipinggirkan karena tenaga dan pikirannya tidak lagi memiliki nilai relevansi bagi ekonomi yang digerakkan oleh mesin pintar. Dalam skenario ini, keberadaan setiap individu– kelas yang tidak berguna– kelas tidak terpakai/useless class — hanya dianggap berguna sejauh mereka tetap menjadi massa konsumtif yang menyerap produk-produk teknologi, tanpa pernah memiliki andil dalam menentukan arah, ke mana teknologi tersebut akan dibawa?
Bangsa yang hilang kestabilannya ini akan menjadi bangsa yang mati dalam ketidakberdayaan, terhapus dari arus utama sejarah sebagai bangsa pemenang, atau sebagai bangsa yang kalah dari perang seperti abad-abad yang lalu, namun kegagalan ini terjadi oleh dampak dari kelambanan beradaptasi dalam membangun teknologi berdaulat.
Pertanyaan kita selanjutnya adalah; apakah Being of God yang kita cari selama ini sebenarnya adalah sistem kode yang menjelaskan kepada kita bahwa; perkembangan kecerdasan menuju puncak dalam bahasa Yuval sebagai homo deus ( manusia Dewa — bangsa yang memiliki teknologi tinggi) adalah sebuah fakta yang mengerikan jika tidak disertai dengan kearifan?
Masa depan manusia adalah masa depan yang harus dibagi perannya oleh AI dan Humanoid, sebuah kreasi yang semula kita ciptakan sebagai pembantu namun memungkinkan berpotensi menjadi tuan bagi penciptanya. Saya sendiri mencurigai bahwa Kita sedang berada dalam proses menyerahkan identitas “To Hand” kita kepada para Humanoid, di mana keputusan-keputusan penting dalam hidup kita tidak lagi diambil berdasarkan pertimbangan moral manusiawi, melainkan berdasarkan efisiensi sistem kode. Saya berharap kecurigaan ini tidak beralasan dan hanya bentuk skeptisisme semata.
Tapi, mari kita hitung ketidakcakapan kita, Ketidakmampuan kita untuk keluar dari labirin labirin yang kita ciptakan sendiri ini? Bukankah ini mencerminkan kegagalan kolektif dalam menggunakan kecerdasan untuk tujuan yang lebih luhur daripada sekadar akumulasi kekuatan teknis?
Ketiadaan kedaulatan atas teknologi ini bisa saja membawa kita pada sebuah kondisi di mana kita harus pasrah menerima identitas baru yang diberikan oleh para penguasa mesin algoritma. Kita mungkin merasa bebas saat perangkat teknologi di tangan kita, namun kebebasan ini bisa disinyalir sebagai imajinasi bangsa sapiens, model kerangkeng digital yang sangat luas, di mana setiap gerakan kita telah diprediksi dan dikomodifikasi, membawa senjakala bagi bangsa Sapiens yang abai terhadap pentingnya industri dan penemuan mandiri — kita akan tergulung oleh gelombang kemajuan yang tidak menyisakan ruang bagi martabat manusia yang tidak produktif secara digital. Perjuangan untuk keluar dari jebakan ini membutuhkan lebih dari sekadar literasi digital, melainkan sebuah revolusi kesadaran untuk merebut kembali basis materialisme kita agar tidak terus-menerus bergantung pada “belas kasihan” teknologi asing yang memeras eksistensi kita.
Bagi Indonesia, tantangan ini adalah sebuah panggilan untuk kembali melihat ke dalam, memperbaiki gizi dan pendidikan sebagai basis material utama, agar akal budi bangsa ini mampu melahirkan penemuan-penemuan yang berdaulat. Kita tidak boleh membiarkan diri kita hanya menjadi residu biologis yang tak terpakai dalam sejarah dunia, yang hanya berguna bagi proyek konsumtif para penguasa modal global yang berlindung di balik topeng kemajuan teknologi. Jika kita gagal mengimbangi perkembangan “To Hand” dengan kebijaksanaan spiritual dan kedaulatan material, maka kita hanya akan menjadi saksi atas hilangnya kemanusiaan kita yang digantikan oleh sistem kode.
Masa depan yang kita bangun seharusnya, proyeksi dunia baru , di mana manusia tetap menjadi subjek atas teknologinya, bukan objek yang pasrah ditarik ke sana kemari oleh kepentingan modal yang meletakkan akumulasi dan terus berevolusi dalam hitungan detik sebagai virtue Akumulasi dari para teknokrat, yang berlindung dibelakang perusahaan – perusahaan raksasa teknologi.
Tapi, sebagai kabar gembira, perjalanan dari Sapiens menuju kemungkinan menjadi Homo Deus adalah sejarah melewati jalan setapak yang penuh dengan ranjau ego dan ketidakpedulian sosial yang bisa menghancurkan tujuan awal dari kontrak negara bangsa. Tentu ini bukanlah garis finish. Menurut hemat saya, sistem organ kita memiliki kecanggihan yang belum sepenuhnya di ekploitasi — Pun dalam hal kecerdasan.
Kecerdasan buatan tentu menakutkan, jika dia dijadikan sebagai senjata Akumulasi kapital. Tapi, setidaknya saat kekurangan material memaksa kita harus bergantung, dan melupakan sisi malas kita sebagai spesies mamalia. Saya ingat kecemasan Paul Lafargue dalam “Hak untuk Malas” (Marjin Kiri, 2016), bahwa seharusnya kehadiran teknologi, semakin canggih dia seharusnya semakin membuat manusia menikmati hari-hari yang malas, lalu melakukan kegiatan yang bernilai, seperti diskusi filsafat, menulis puisi atau pergi memancing. Kenyataannya semakin maju teknologi, semakin meminggirkan, semakin boros sumber daya, semakin eksploitatif, semakin membuat kita memeras keringat dan bersaing demi memenuhi nutrisi atau protein. Itu tentu sangat sial, dan, ya tentu akan membuat kita bersepakat dengan thesa Yuval tentang kelahiran klas sosial yang tidak berguna. Tapi, sebagai mamalia kreatif, Yuval mungkin berfikir terlalu mekanis, kita pasti menemukan celah untuk menunjukkan kegemaran kita. Setidaknya sebagai individu otonom, tidak berarti menjadi golongan Klass tidak berguna adalah kiamat itu sendiri. Masih ada celah walau tidak berguna pada arus utama, tapi masih ada ruang kelompok, misalnya kemampuan sabotase atau ya, melakukan ekonomi teroganisir otonom, seperti ide-ide awal dalam model cryptography.
Sejarah masa depan adalah sejarah yang penuh dengan ramalan, pertanyaan dan maha gelap. Untuk sekedar mengaliri ide being of God menuju konteks To Hand, tidak mesti harus ada di arus utama. Dan sudah barang tentu tidak perlu berguna juga bagi kita, jika kita sadar bahwa perkembangan teknologi masa depan sama dengan dehumanisasi dan akumulasi kapital. Jika kita boleh berargumen, membantah Argumentasi Yuval tentang lahirnya useless class, adalah rekaman teknokratism. Jika kecepatan teknologi membawa manusia semakin jauh dari identitasnya, tentu masa depan masih berstatus ekletis. Kita masih memiliki kehendak bebas. Apakah memilih tunduk atau keluar dari sirkuit, dan membangun jaringan baru yang lebih imanen, manusiawi dan tentu saja tidak menimbulkan ketergantungan.
Sebagai penutup, saya pribadi berpendapat, bahwa; akan tidak seimbang rasanya jika setiap pribadi tidak memiliki rasa bosan, rasa lelah atau konteks syukur. Dalam bahasa Lafurge, rasa bosan dan rasa lelah serta bermalas-malasan tidak bisa digantikan oleh mesin. Sebagai Spesialis Mamalia yang berpikir, memiliki aneka macam rasa dalam satu waktu adalah pertanda masih memiliki warisan being of God diluar jalur teknoratis. Tentu saja rasa malas salah satu wujud yang subtil. Wallahualam.
Penulis adalah Koordinator Jaringan Kota Wilayah Barat.






