RAKYAT DAERAH – Demontrasi massa di depan Kantor Bupati, Jawa Tengah, menelan korban jiwa. Dua orang dilaporkan meninggal dunia usai melakukan aksi di hadapan Bupati Pati Sudewo.
Saat aksi, bupati Dilempari Saat Minta Maaf. Sekitar pukul 12.16 WIB, Bupati Sudewo akhirnya muncul di atas kendaraan polisi. Dengan pengeras suara, ia mengucap permintaan maaf singkat:
“Saya mohon maaf.”
Namun, rekonsiliasi tak tercapai. Botol air mineral melayang ke arahnya, memaksa ajudannya menangkis dengan tameng polisi. Sudewo segera mundur ke dalam kantor. Momen ini menjadi simbol jarak yang kian melebar antara pemimpin daerah dan warganya.
Sekitar pukul 13.00 WIB, setelah perwakilan massa berhasil masuk ke Gedung DPRD, rapat paripurna darurat digelar. Atmosfer di ruang sidang tak kalah tegang dengan di luar.
Fraksi PKS, Demokrat, Gerindra, dan PKB satu suara mengusulkan hak angket terhadap Bupati Sudewo, menudingnya melanggar sumpah jabatan dan membuat kebijakan yang memicu kegaduhan, mulai dari pengisian Direktur RSUD Soewondo hingga polemik kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
Ketua DPRD Pati Ali Badrudi pun mengetok palu pembentukan Panitia Khusus (Pansus) Pemakzulan.
“Pansus akan mengusut kebijakan Bupati Pati secara menyeluruh,” ujarnya.
Anggota DPRD Pati, Teguh Bandang Waluyo menuturkan, tercatat ada laporan masyarakat menjadi korban jiwa dalam kejadian aksi demo Bupati Pati.
“Bahwa ada dua korban jiwa dalam kejadian ini. Atas nama S dan Z,” kata Bandang di Gedung DPRD Pati, Rabu (13/8), dikutip dari detik.com.
Sementara itu, Ketua DPRD Pati, Ali Badrudi menyampaikan ucapan bela sungkawa atas adanya korban jiwa. Ali sempat meminta doa para anggota DPRD yang menjadi korban jiwa.
“Para anggota DPRD Pati untuk mendoakan para korban pada aksi ini. Semoga diampuni oleh Allah,” tuturnya saat di sela-sela adanya rapat paripurna di DPRD Pati pukul 13.00 WIB.
Terpisah, kabar ada 2 orang tewas akibat demo ini. Namun kepolisian membantahnya. Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Artanto mengatakan, pihaknya sudah melakukan penelusuran ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya. Belum ditemukan laporan warga meninggal akibat demo.
“Sampai saat ini, sampai sore hari ini hasil penelusuran dari kita, dari kepolisian nihil. Nihil adanya. Tidak ada korban yang meninggal dunia,” ujar Artanto di Pati, Rabu (13/8).
Meski begitu, polisi menyebut ada 34 pengunjuk rasa yang luka-luka. Mereka kebanyakan mengalami sesak napas akibat menghirup gas air mata yang dilontarkan polisi.
“Ada 34 orang saat ini sedang diobati dan dirawat di RSUD Soewondo. Dan ada yang sudah dipulangkan karena tidak terlalu riskan atau berbahaya untuk sakitnya,” jelas dia. [011]






