Spirit Idul Adha dan Menjaga Kemerdekaan Pers di Tanah Bengkulu

0
12

Oleh : Dedi Hardiansyah Putra 

HARI ini, 27 Mei 2026 serentak umat musim merayakan ​Idul Adha. Hari raya ini bukan sekadar ritual tahunan yang ditandai penyembelihan hewan dan pembagian daging kurban. Di balik kisah keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, terkandung nilai tentang pengorbanan, ketaatan, dan keikhlasan. Sebagai insan pers yang bergelut di garda terdepan informasi, saya melihat ada irisan nilai yang sangat relevan antara spirit Idul Adha dan perjuangan menjaga kemerdekaan pers di Indonesia, khususnya di Bengkulu.

​Dalam teori perilaku organisasi, pengorbanan sering kali dipandang sebagai “investasi emosional” demi mencapai tujuan yang lebih besar (altruistic behavior). Nabi Ibrahim memberikan pelajaran bahwa pengabdian tertinggi membutuhkan pelepasan ego. Begitu pula dengan pers.

​Kemerdekaan pers, sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 40 Tahun 1999, bukanlah kebebasan tanpa batas. Ia adalah kemerdekaan yang dikunci oleh tanggung jawab etis dan moral. Menjadi wartawan di era digital saat ini menuntut pengorbanan yang tidak ringan, mengorbankan popularitas demi kebenaran, mengorbankan kenyamanan demi liputan investigatif yang objektif, dan mengorbankan kepentingan kelompok demi kepentingan publik (public interest).

​Jika Idul Adha adalah ujian ketaatan, maka bagi insan pers, menjaga independensi di tengah gempuran kepentingan politik dan bisnis adalah “kurban” kita setiap hari. Seperti yang dikemukakan oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam bukunya The Elements of Journalism, kewajiban utama pers adalah kepada kebenaran dan kesetiaan pertamanya adalah kepada warga negara. Inilah bentuk kurban paling nyata, melepaskan ego untuk menjadi “watch dog” demokrasi.

​Perjuangan kemerdekaan pers sering kali menghadapi tantangan berat, mulai dari ancaman kriminalisasi hingga tekanan ekonomi media. Di Bengkulu, JMSI (Jaringan Media Siber Indonesia) dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) berkomitmen terus berjuang memastikan bahwa ekosistem pers tumbuh sehat, profesional, dan merdeka.

​Jika kita meminjam perspektif filsafat perjuangan, kemerdekaan pers adalah sebuah “iktikaf” berkelanjutan, upaya untuk terus-menerus memurnikan niat agar pers tidak terjerembap menjadi alat propaganda atau corong kepentingan sempit.

Idul Adha mengajarkan bahwa setiap pengabdian yang tulus akan membuahkan hasil yang berkah. Begitu pun pers; ketika media berdiri tegak di atas prinsip kebenaran dan etika, maka kepercayaan publik (public trust) akan menjadi “pahala” sekaligus pelindung utama bagi kebebasan pers itu sendiri.

Meneladani Spirit Ibrahim dalam Ruang Redaksi

​Menghadapi tantangan disrupsi informasi dan maraknya hoaks, insan pers harus mengambil peran sebagai “Ibrahim masa kini”. Kita harus berani “menyembelih” nafsu untuk sekadar mengejar clickbait yang merusak kualitas informasi. Kita harus berani mengurbankan ego untuk mau melakukan check and balance secara mendalam.

​Kemerdekaan pers adalah amanah kemanusiaan. Tanpa pers yang merdeka, keadilan hanyalah utopia. Di momen Idul Adha ini, mari kita jadikan semangat berkurban sebagai momentum untuk memperbaharui komitmen. Mari kita tingkatkan kualitas literasi media, perkuat persaudaraan antar pemilik dan pekerja media, serta pastikan bahwa setiap berita yang kita sajikan membawa pesan kemaslahatan bagi masyarakat Bengkulu pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya.

​Selamat merayakan Idul Adha 1447 H. Semoga semangat pengorbanan ini menguatkan langkah kita dalam mengawal demokrasi dan menjaga api kebebasan pers tetap menyala terang di Bumi Merah Putih.

Penulis adalah Ketua JMSI Bengkulu dan Sekretaris PWI Bengkulu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here