PERKA: Berkatalah Seorang Pria Dipanggil “Perka” Dikampungnya

0
96

Pekerjaan penting yang harus diselesaikan dengan cepat oleh manusia moderen adalah tuntutan untuk menyiapkan banyak tong sampah. Karena ada banyak kebijakan dan politisi yang harus di buang kedalamnya.

Bayangkan pilihan kerja berikutnya, kita juga diwajibkan untuk mendaur ulang sampah-sampah ini, selain agar lebih bernilai ekonomis, itu juga membentuk pandangan bahwa para Politisi yang tidak layak pakai masih bisa dijadikan perkamen atau paping blok yang ramah lingkungan.

Ini adalah transformasi kultural, kesadaran baru yang membentuk cara kita bertindak; melihat sampah kebijakan dan politisi sampah sebagai bagian dari upaya menjadikan mereka bermanfaat bagi Manusia, walaupun harus didapatkan dengan mendaur ulang mereka terlebih dahulu.

Dan saya yakinkan, merebut ulang narasi kekuasaan, atau jika isitlah merebut ulang tidak terlalu cocok dengan cita rasa kita, terkesan terlalu mewah, atau terlalu miskin rasa, kita boleh menggunakan istilah lain yang boleh saja tidak setara, misalnya menjungkir balikan atau mendaur ulang. Ini meletakkan posisi seorang politisi tidak ada ubahnya sebagai hasil reproduksi, atau sisi lain dari aktivitas konsumtif. Jadi saat kita membeli sebungkus rokok, makna politisi seperti puntung yang berakhir di asbak.

Ini seperti peristiwa liminalatif, atau proses peralihan dua kondisi menuju peralihan yang tidak terlalu bermasalah. Seperti sensasi dingin dilidah kita, saat mencucup es krim di siang hari yang terik. Peralihan lembut nan manis ini memberikan efek kejut bagi lidah kita, sensasi creamy dan dingin seakan memerintahkan kita untuk menjilatinya kembali.

Warga negara harus memenangkan narasi, menjungkir-balikkan semua definisi kekuasaan. Jangan katakan ini sebagai bentuk dari upaya sentimentil saat seorang bujangan mencoba menarik hati seorang perawan dengan terlebih dahulu menenangkan hati orang tuanya. Jikapun tidak mendapatkan restu, merebut secara paksa, dengan membawa lari seorang perawan, lalu bersepakat didepan penghulu. Disaat yang sama, saat cinta kita bersemi dalam pelarian, serentak pula kita akan jadi musuh bersama, tidak pun menjadi musuh sekampung, anda tentu akan menjadi musuh sekeluarga. Tapi pembicaraan membawa kabur pasangan ini adalah usaha-usaha dalam melepaskan kategori layak dan tidak layak seseorang jadi menantu. Kelayakan ini barangkali berangkat dari usaha setiap keluarga menentukan ketertiban dan prospek sosial yang menyangkut mobilitas kekayaan, nama baik, ataupun religiusitas. Kita melihat bagaimana ruang keluarga menjadi cikal bakal dari usaha untuk membicarakan dan menempatkan disiplin sebagai standar dari kekuasaan orang tua terhadap pilihan anak-anaknya.

Jadi ada faktor subjek yang dipandang secara layak menentukan kemana arah keluarga, dan bagaimana anak-anak mendapatkan pasangan Yang layak. Layak disini adalah kesimpulan dari semua kriteria yang telah disusun dan ditentukan sebelumnya. Kita mungkin menyangkal Isitlah orang tua, kepala keluarga adalah sebagai cikal bakal lahirnya kekuasaan. Penyangkalan ini lebih didasarkan oleh moralitas, kebudayaan menghormati orang tua atau memang seperti itu ajaran agama menentukan bagaimana perilaku kita terhadap orang tua. Disini lebih terlihat sebagai penundukan secara sukarela atas otoritas.

Maka saat kita membicarakan kekuaasaan, artinya kita sedang berbicara tentang struktur yang berjenjang, lengkap dengan upaya paksa dan pemberian hukuman beserta prestasi saat subjek berada dalam kriteria baik, atau bukan tipe pemberontak.

Kekuasaan yang seperti ini, jika kita sepakati meliputi prosedur yang rigid, artinya makna kekuasan tumbuh dan melekat pada subjek, misalnya yang memenangkan kontes pemilihan umum, lalu memegang kendali penuh atas kekutan militer, aparatus sipil, kepolisian atau lembaga kehakiman dan penuntutan. Namun, kita perlu menggambarkan bentuk lain saat menceritakan kekuasaan. Penjelasan yang memungkinkan adalah ide yang dibawa sejak istilah memiliki sebanyak mungkin bisa kita bawa dalam percakapan sehari-hari. Dia sangat fungsional dalam melihat cara kita berpikir, bagaimana seseorang akan memutarbalikkan opini pengagumnya, atau bagaimana dalam struktur yang lebih luas cakupannya, makna kekuasaan berganti larangan dan izin atas sikap, serta kriteria -kriteria yang mencakup standar dari istilah larangan dan pemberian izin. Artinya Kekuasan menempatkan batas, sejauh mana warga negara boleh menggunakan pikirannya dan menyusun bantahan terhadap segala model narasi yang ditawarkan oleh kekuasaan. Selain narasi , larangan juga akan masuk kedalam bagaimana perilaku warga diatur sedemikian rupa, melalui ide bersama tentang adab dan norma sosial.

Dalam setiap opini, Kitapun bersepakat bahwa apa yang terjadi, pada pengaturan-pengaturan yang disiapkan sebagai peristiwa alamiah. Seseorang yang lahir dalam masyarakat tertentu senantiasa harus menundukkan dirinya. seseorang yang menempati wilayah tertentu harus bersepakat pada kebudayaan setempat, walaupun kebudayaan setempat belum tentu sesuai dengan subjek. Ini menandakan atas dasar usaha untuk bersosialisasi, kita menutup pintu bagi upaya lain, upaya Perka, membantah sesuatu yang senantiasa mapan, terstruktur, kuat dan penuh paksaan, baik secara ide maupun dengan pendekatan aparatus. Sekali saya katakan, bahwa kita bisa saja menganggap kondisi ini sebagai sesuatu yang alamiah. Tapi, menurut saya, kekuasan berarti kehendak dasar manusia untuk menguasai apapun tanpa bantahan.

Tetapi karena akal Budi, kehendak mengatur ini tidak selalu sesuai dengan kehendak inter-subjek. Bahwa kesepakatan walaupun dalam bahasa yang kita kenal sebagai kontrak sosial tidak melulu berangkat dari seperangkat kesepakatan itu sendiri. Kehendak akal Budi pula melahirkan banyak benturan. Usaha-usaha membenturkan antar ide ini, membantahnya, atau kemampuan untuk sekedar menundukkan diri. Artinya seseorang berdasarkan kemampuan pikirannya untuk tidak sekedar bersepakat atas dasar semua argumen maupun standar baik dan buruk. Semua dihadapkan pada posisi skeptis, mencurigai semua motif yang tersembunyi. Walaupun ini tidak semata-mata upaya transformatif, bisa jadi kita sedang mengajukan kekacauan baru saat mencoba berbantah-bantahan.

Kemampuan menggunakan pikiran, berbantah-bantahan, dan bisa saja menimbulkan kekacauan, serta menyusun bantahan ini, pada masyarakat rejang di kenal dengan Istilah “Perka”.

Perka adalah Istilah sehari-hari yang digunakan oleh masyarakat rejang-orang rejang, khusus orang rejang yang menetap di wilayah Lebong. Perka ini lebih berkonotasi negatif. Perka biasanya ditujukan kepada seseorang yang suka berdebat, mau menang sendiri, atau selalu bertanya terhadap argumen yang disampaikan lawan bicara. Dalam dialog warga, dia selalu menjadi sosok yang menjengkelkan. Tidak ada kenyamanan saat berbicara dengan seorang yang telah mendapatkan julukan Perka.

Apakah anda pernah ingat dengan seorang diagones dari sinope? Pria yang dapat julukan si anjing tong itu? Atau anda pernah membaca kisah seekor lalat dari anthena? Mari kita bayangkan ketidaknyamanan yang sama dengan seekor anjing dari sinope dan seekor lalat dari athena atau seorang dengan julukan Perka? Secara opsional saya tawarkan tentang seorang Perka yang mati sendiri, mengkritik klaim kekuasan untuk mewujudkan rakyat sejahtera . Dia menganggap runutan “Saya, negara, adalah rakyat” adalah kebohongan. adalah seorang Nietzsche menjelaskan negara dapat mempersembahkan otoritas dan kepentingannya sendiri sebagai kepentingan seluruh masyarakat, menuntut kesetiaan sambil menyerap energi kreatif individu dan budaya. Nietzsche menantang kecenderungan untuk memperlakukan negara sebagai sumber identitas kolektif, moralitas, dan legitimasi politik yang tidak terbantahkan.

Masih ada kisah beberapa Pria Perka lain dalam peradaban kita, yang berjalan menembus perjalanan sejarah. Berkata dengan benar, bagaimana berbantahan, adalah keharusan bagi seseorang yang belum tentu dianggap menyenangkan dalam pergaulan masyarakat rejang, padahal sesuai dengan argumentasi yang diajukan dalam tulisan ini, dia adalah sesosok yang sedang menggunakan pikirannya. Lihat para pria Perka terdahulu, yang berangkat dari kebudayaan dan masa berbeda menganggap bicara sebagai peluru demi menembak jantung kekacauan. Seorang Ludwig Wetrgeinstein menganggap ” Batas bahasanya adalah batas dari dunianya”. Heidegger menganggap bahasa adalah sebagai wujud keberadaan. Jauh ke belakang bagi Ariestoteles Melalui bicara dan dialog kita bisa mengunggkap ketidakadilan dan keadilan. Tapi karena kita berdiri ditengah antara kekacauan, semua opsi bijaksana dari dari percakapan sehari-hari lebih mementing bagaimana perasaan terjaga, karena ketersinggungan bagi kita adalah salah satu jalan menuju kekacauan.

Setiap tindakan kita, pemikiran kita sangat penting dalam meletakkan dua hal berseberangan sebagai upaya untuk mencari motif dari setiap arguementasi atau pendapat yang datang dari kekuasaan. Seberapa jauh setiap hasil pemikiran kita melahirkan kebaikan ( artinya setiap yang kita nikmati dan konsumsi serta yang kita komunikasikan tidak berdampak buruk bagi orang lain dan lingkungan kita), atau seberapa jauh hal tersebut lebih condong pada kerusakan. Beberapa peran dialog, walaupun terlihat sepele, tetapi kadarnya yang mengendap dipikiran kita, itulah yang dapat kita lacak, kenapa di kemudian hari setiap ide berakhir menjadi tindakan.

Jika ingin disederhanakan, kita pasti bersepakat , bahwa saat seseorang sedang ketagihan atau kecanduan alkohol, menandakah tingkat berbahaya sudah mencapai batas tertentu. Atau sama saat seseorang, dengan segala jenisnya, ketagihan amphetamine juga masuk kategori sangat berbahaya. Dan paling mendua adalah ketagihan nikotin, karena membawa rokok kedalam ketidakjelasan dan kejelasan. Ketidakjelasan karena setiap pandangan berdasarkan ide – informasi tertentu; menganggap haram, sebahagian menggangap mubah, atau secara biologis kehadiran nikotin merusak kesehatan. Tetapi berdasarkan ide ekonomi, dengan senang hati menampung semua bahaya, haram dan kesehatan kedalam tempayan, lalu dibungkus dengan cukai. Pada bagian ini, semua pandangan berakhir dengan kejelasan – kejelasan cash flow, pajak atau sekedar kampanye anti tar dan nikotin. Pada sisi berbeda, uang alias pendapatan dalam bentuk cukai, rantai distribusi yang melahirkan turunannya berupa pajak distribusi, ikut membuat jalan raya yang bisa dilewati semua pandangan berbeda tersebut.

Ini menjelaskan bahwa Perka adalah; istilah keseharian atau genealogis, hidup dan lahir dari masyarakat rejang di Lebong, sebagai alat dalam mendebat dan bertanya atau mematahkan arguementasi lawan bicara. Pada pandangan ini seharusnya dirayakan keberadaannya, agar melahirkan sesuatu hal yang bisa dipahami sebagai upaya memugar keyakinan atas masalah. Terutama pada masalah sekedar meng”iya”kan, atau masalah kecanduan pada kehormatan terhadap seseorang yang dianggap besar, elit atau berkelas. Perka akan menyanggah semua itu.

Tapi tuan-tuan terhormat tahu; Dalam jenjang kekuasaan, ada berapa kelas saja sebenarnya secara dominan bisa mengungkapkan apapun. Ini seperti kecanduan. Misalnya pada acara upacara bendera di sekolah-sekolah. Kepala sekolah atau dewan guru yang didahului ruangnya untuk berdiri diatas podium. Para siswa dengan semua masalahnya, entahkah itu masalah kurang jajan, belum sarapan, lupa mengerjakan PR, sampai lupa Makai kaos kaki hanya perlu menyiapkan telinganya saja. Jika dia sedikit saja keluar dari disiplin, hukuman paling sederhana adalah dengan secara orotitatif, pembicara yang berada diatas podium akan menunjuk ke arah sumber gangguan. Kita menganggap ini normal, karena memang seperti itu seharusnya, dalam opini kita proses pengajaran itu terjadi. Namun jika pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan orang-orang, pertanyaan pentingnya, apakah setiap siswa butuh podium? Apakah setiap siswa butuh pidato yang isi dan formatnya selalu diulang-ulang, itu-itu saja yang disampaikan. Lalu bagaimana dengan seorang siswa yang hari itu, sebelum berangkat sekolah sudah terlebih dahulu dimarahi oleh ibunya, yang isinya sama dengan apa yang disampaikan oleh seorang guru didepan podium? Tentu karena bicara, pidato, diskusi dan berdebat adalah hal yang pokok, sesuatu yang biasa kita konsumsi sehari-hari, sama halnya kebutuhan kita pada makanan. Bayangkan dalam setiap hari yang harus kita dengar dan konsumsi itu-itu saja? Apakah membosankan? Tapi bagaimana jika mengkonsumsi itu-itu saja sebenarnya adalah model lain dari ketagihan – kecanduan? Yang berbeda adalah dosisnya saja. Seseorang pendiam dosis bicaranya sedikit. Seorang pejabat dosis bicaranya banyak.

Ketagihan bicara, ketagihan pidato, ketagihan berdebat, semuanya bisa dibungkus dalam satu bungkusan, yaitu ketagihan adiksi sosial. Dalam kadar – dosis tertentu bisa saja berakibat fatal. Baik fatal bagi kekuaasaan. Maupun bisa juga mendua. Karena fatal bagian kekuasaan bukan berarti buruk bagi publik.

Saya akan menceritakan bagaimana ketagihan bicara sehingga melahirkan akibat fatal bagi kekuasaan, tetapi berdampak baik bagi publik.

Pada 9 November 1989, adalah peristiwa sejarah bagi penyatuan dua kubu politik dan masyarakat jerman melalui runtuh-nya tembok Berlin. Keruntuhan tembok Berlin ini karena blunder komunikasi yang tidak disengaja oleh Gunter Schabowski, juru bicara Partai Komunis Jerman Timur. Ini terjadi saat dia membacakan rancangan peraturan pelonggaran perjalanan luar negeri yang sebenarnya belum final dan belum siap diberlakukan. Dalam konferensi pers internasional yang disiarkan secara langsung tersebut, Schabowski yang kurang persiapan dan belum membaca draf memo secara saksama, secara keliru menjawab pertanyaan wartawan mengenai waktu berlakunya aturan baru dengan kalimat ikonis: “Setahu saya, aturan ini berlaku segera, tanpa penundaan.” Informasi keliru ini menyebar dengan sangat cepat seperti kilat, hingga memicu gelombang kepanikan sekaligus euforia luar biasa yang membuat ribuan warga Jerman Timur langsung berbondong-bondong mendatangi berbagai pos penjagaan perbatasan malam itu juga. Karena kalah jumlah, bingung tanpa instruksi yang jelas dari atasan, dan tidak berani melepaskan tembakan ke arah massa yang begitu besar, para penjaga perbatasan akhirnya terpaksa membuka gerbang pembatas, yang seketika itu juga mengakhiri pemisahan fisik Jerman selama puluhan tahun sekaligus menandai awal dari keruntuhan blok komunis di Eropa Timur.

Nota sejarah yang dikirimkan dari kisah keruntuhan tembok Berlin ini seperti meruntuhkan ego para sampah-sampah politik yang sekian tahun membelah masyarakat Jerman kedalam dua kubu berseberangan. Masyarakat yang sebelumnya berangkat dari satu sejarah kekerabatan lalu dipaksa terbelah oleh dua ideologi kemudian bersatu kembali dari sisi lain membuktikan kecerobohan dan kekacauan dari kekuasaan tidak serta Merta berdampak buruk bagi publik, saat publik dibelah oleh kekuasaan, cukup satu kata yang berani merindukan hal yang selama ini menjadi idaman, yakni Perka, mendebat hal mapan hasil dari rekayasa politik. Perka seperti palu pertama yang menghantam tembok Berlin. Seperti langkah pertama memanjat tembok tersebut lalu berpelukan kepada sanak Keluarga yang puluhan tahun terpecah belah.

Siapapun hari itu akan menganggap mustahil bagi publik Jerman Barat dan Jerman Timur akan hidup dalam satu selimut kembali. Sama hal dengan kita hari ini. Kita dihadapkan pada seseorang yang dipilih untuk berkuasa dengan tingkat kecanduan bicara yang sangat tinggi dosisnya. Setiap orang ini naik ke podium setara dengan kelahiran masalah baru. Tapi si Perka atau katakanlah para Perka akan membantah setiap isi pidato orang ini. Kita hanya butuh satu palu untuk merusak podimnya. Walaupun kita belum menemukan – belum tahu palu tersebut disimpan dimana?, Tapi rasa-rasanya keresahan ini bagai kerinduan seorang insomnia menemukan kantuk, sangat dekat sekali. Apakah mungkin kita perlu obat tidur agar kantuk tersebut tiba?. Bisa saja, tetapi memang terasa sudah dekat. Dimana-mana kita bicara, kita menemukan para Perka. Kita mendapatkan para pembantah. Mungkin saja hari baik itu tiba, mungkin saja tidak. Walaupun kita perlu bersuka cita, setidaknya saat pelajar Perka di Perancis telah membakar mental para politisi. Kita pula perlu bersuka cita di negeri kita ini, karena para Perka telah bertambah jumlahnya, seiring semakin sering orang ini naik podium dan berpidato, seiring semakin lama dia berkuasa, semakin dekat dia dengan Palu yang akan memukul kepalanya.

Walaupun disisi lain, kita masih menemukan subjek-subjek yang mempermasalahkan argumen para Perka. Sama halnya saat seseorang dituduh Perka pada masyarakat Rejang. Tentu saja dia akan ditentang dan dihindari, karena mengganggu, menjijikkan, setara dengan lalat-lalat yang selalu mendekati bangkai. Tapi siapa lagi yang menemukan bangkai terlebih dahulu kalau bukan lalat?. Siapa pula yang akan membantah busuknya argumen kekuasaan dan kenyamanan kalau bukan si Perka?. Tapi, kita perlu menghindari agar seorang Perka, atau lalat-lalat jangan sampai membusuk. Membusuk sama dengan tragedi, bisa saja melahirkan penyakit baru yang tidak kalah berbahayanya dengan adiksi sosial dan ketagihan bicara.

Penulis adalah Ronald Reagen Pemuda Asal Kabupaten Lebong

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here