RAKYAT DAERAH – Kesibukan elektoral belum berakhir setelah selesainya tahapan Pilkada serentak pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2024 lalu. Sebelumnya, Pilkada 2024 yang sudah dilaksanakan juga sudah menempatkan para Kepala dan Wakil Kepala Daerah di posisi masing-masing. Baik tingkat provinsi maupun tingkat kota/kabupaten.
Pada Pilkada 2024 lalu bagian dari pendukung cakada kala itu, baik para pegawai termasuk partai yang kadernya kerap menghujat di media sosial. Kini perlahan itu merapat ke para kepala daerah terpilih.
Uraian itu senada dengan catatan Ustadz Junaidi Hamsyah (UJH) yang disiarkan ke dalam grup Ikatan Jang Pat Petulai pada Sabtu (17/5) pagi.
Mantan Gubernur Bengkulu periode 2012-2015 itu berpendapat, politik memang dinamis. Jika nilai-nilai harga komponen kebutuhan masyarakat turun naik atau fluktuatif dalam hukum ekonomi itu hal yang biasa. Hal itu menjalar kedunia politik. Hingga turun naik harga diri tidak pernah dihiraukan.
Selama proses Pilkada, Ustadz yang akrab disapa UJH ini menyayangkan banyak pihak menulis dan mengukir keburukan sang calon. Sanggup membongkar arsip lama dan berulang-ulang memposting di berbagai grup.
“Sanggup mengarang cerita buruk dan selalu menulis sisi negatif dengan sumber seadanya,” tulis Mantan Gubernur Bengkulu ke-8 itu yang dekat dengan Gubernur terpilih Helmi Hasan.
Pasca Pilkada, ia melihat yang dihujat sedang menapaki dan menjalani amanah yang diberi. “Penghujat, pengkhianat mulai mendekat dan merapat. Dengan cerita lalu mulai psikopat. Lidah bersilat dengan tutur cerita lama jangan diingat,” sambungnya.
Ia juga memberikan siraman rohani, bahwa Allah sudah menyampaikan nasihat dalam surat Al Hujarat. ‘Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolik-olok). (Al.Hujarat 11)’.
“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Surat Al Baqarah 216,” demikian Junaidi. [TIM]






