Capung Transportasi di Tengah Warisan Dunia, Putus Sekolah Demi Mencari Sesuap Nasi

0
160
Capung di Desa Sungai Lisai/ist
Capung di Desa Sungai Lisai/ist

RAKYAT DAERAH– Setiap anak berhak atas jaminan kehidupan yang layak, mendapatkan perlindungan, mengenyam pendidikan, bermain, dan lain-lain. Akan tetapi, tidak semua anak bisa merasakan pemenuhan atas hak-haknya tersebut.

Hal ini dikarenakan masih ada anak yang harus berjuang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dengan menjadi pekerja dan meninggalkan masa bermain, belajar, dan lainnya.

Seperti terjadi di Desa Sungai Lisai di Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu. Desa Sungai Lisai merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Pinang Belapis, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu. Di desa itu ada dua dusun dengan jarak tempuh satu jam perjalanan kaki.

Askes jalan ke Sungai Lisai itu dimulai dari Desa Sungai Sebelat Ulu yang merupakan desa terdekat. Sekitar 60 kilometer dari perkotaan Kabupaten Lebong. Sedangkan, jarak untuk menuju dari Desa Sebelat Ulu ke Sungai Lisai mencapai 10 kilometer.

Akses lain bisa melalui Kecamatan Jangkat Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, dengan berjalan kaki selama dua hari melalui hutan TNKS.

Desa itu berada di jantung Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang langsung berbatasan dengan Provinsi Jambi, yang juga merupakan warisan dunia milik UNESCO.

Sementara untuk transportasi mereka mengandalkan tenaga anak laki-laki yang sering disebut Capung. Capung adalah kuli angkut yang diupah untuk mengirim barang maupun menyampaikan pesan keluar atau masuk desa.

Puluhan laki-laki warga Desa Sungai Lisai, Kecamatan Pinang, Kabupaten Lebong, Bengkulu memilih profesi sebagai kuli angkut.

Mereka terbiasa dengan berjalan kaki sampai 10 km sambil memikul beban, naik turun bukit dan bahkan sambil menyeberangi sungai. Upahnya pun hanya Rp 1.500 per kilogramnya.

Mirisnya para capung ini sendiri masih dibawah umur yang harusnya mendapatkan fasilitas pendidikan, namun mereka lebih memilih mencari sesuap nasi guna melanjutkan kehidupan.

Surmansyah mengaku biasanya mereka mengangkut hasil panen pertanian seperti kopi, kulit manis, rotan, atau bahkan beras. Hasil pertanian itu ditukar dengan beragam kebutuhan pokok. Tempat tinggal para kuli yang biasa disebut capung itu sangat terpencil.

Penjabat Kades Sungai Lisai, Deswen Tanjung menyebutkan, masih melihat ada anak yang putus sekolah dan tidak menamatkan pendidikannya setara SMA. Alasan tidak tamat bisa bermacam-macam.

Ironisnya, bukannya mahalnya biaya pendidikan, justru orang tua yang menghendaki anaknya bekerja, karena ada bisnis yang bisa memperkerjakan siswa putus sekolah. Salah satunya sebagai capung.

“Kami melihat ada angka putus sekolah, dan tidak bisa karena alasan pendidikan mahal lalu sekolahnya berhenti. Tetapi justru karena permasalahan orang tua yang menghendaki anaknya bekerja,” ungkapnya.

Padahal, lanjutnya, Pemkab Lebong telah mengalokasikan anggaran untuk beasiswa kepada masyarakat, termasuk warga Sungai Lisai. Khususnya warganya, melalui program Pesantren PIP, telah dilaksanakan dengan melibatkan Dinas Dikbud Lebong untuk mengembangkan pendidikan, baik bersekolah atau menempuh kuliah di universitas di Bengkulu maupun luar Bengkulu.

“Tentu ini ada seleksinya, ada ujiannya, dan kami sudah membentuk tim,” pungkasnya.

Ia mengaku biasanya mereka mengangkut hasil panen pertanian seperti kopi, kulit manis, rotan, atau bahkan beras. Hasil pertanian itu ditukar dengan beragam kebutuhan pokok. Tempat tinggal para kuli yang biasa disebut capung itu sangat terpencil.

Indonesia memang sudah merdeka 60 tahun lebih tapi tingkat kesejahteraan penduduknya masih jauh dari merata dan memadai. Warga masyarakat seperti warga Desa Sungai Lisai hanya bisa berharap pembangunan sarana dan prasarana bisa segera sampai di wilayahnya. [011]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here