Ironi Warga Teluk Sepang, Hidup Dikepung Industri, Rawan Bencana & Terancam Terisolir 

0
11

RAKYAT DAERAH – Setiap hari, ratusan pelajar dan warga Kelurahan Teluk Sepang, Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu, melintasi jembatan darurat hasil swadaya masyarakat demi pergi sekolah dan bekerja.

Jalur alternatif di Parit 1 ini menghubungkan Kelurahan Teluk Sepang dengan Kelurahan Sumber Jaya dan Padang Serai menuju berbagai fasilitas publik, seperti sekolah, pasar, dan pusat pelayanan. Jembatan Parit 1 juga merupakan bagian dari jalur evakuasi tsunami yang dibangun negara.

Jembatan parit I atau yang lebih dikenal dengan nama jembatan Teluk Sepang dibangun Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai bagian dari program rehabilitasi pasca bencana tahun 2010 itu berada di daerah rawa yang dipengaruhi oleh pasang surut.

Pada saat air laut surut, bagian depan jembatan berukuran 5 x 10 meter ini kering, Namun pada saat air laut pasang wilayah ini terendam. Daerah rawa yang dipengaruhi oleh pasang surut serta dengan model jembatan tanpa penyangga menyebabkan tanah dengan struktur yang halus dan berlumpur tergerus oleh pergerakan air laut.

Berdasarkan Jurnal Akuatik Lestari yang diolah dari Yayasan Kanopi Hijau Indonesia, menyatakan bahwa laju kenaikan permukaan air laut di Bengkulu mencapai 10 hingga 12 cm/tahun. Fakta ini seharusnya menjadi signal penting bagi pemerintah Bengkulu guna keselamatan infrastruktur publik.

Ali Akbar, Ketua Kanopi Hijau Indonesia  mengatakan bahwa pemerintah Kota Bengkulu seperti tidak memiliki pengetahuan yang utuh terhadap laju kenaikan permukaan air laut yang berdampak terhadap kerusakan infrastruktur. Sehingga mereka tidak mampu melihat skala prioritas dalam menentukan arah penyelamatan infrastruktur tersebut. Tindakan yang lakukan selalu terlambat dan bermuara kepada kebutuhan biaya yang besar atau memang sengaja dirancang seperti itu, agar ada proyek yang bernilai tinggi?.

Sementara guna kepentingan warga, secara swadaya warga Teluk Sepang melakukan perbaikan secara mandiri terhadap jembatan ini.

Kristian, warga Teluk Sepang mengatakan, jembatan Parit 1 sudah mengalami beberapa perbaikan, yang dilakukan secara swadaya oleh masyarakat setempat. Terakhir, perbaikan dilakukan pada 15 Agustus 2026.

“Ini adalah upaya kami agar tidak melewati jalan Pelindo dan bertempur dengan debu batubara,” katanya.

Data Posko Lentera Teluk Sepang mencatat, setidaknya dalam kurun waktu Januari sampai Juli 2026, sebelum jembatan tersebut diperbaiki, sudah terdapat 3 kali kecelakaan. Pertama seorang pelajar yang baru pulang sekolah, Kedua seorang ibu rumah tangga dan anaknya warga Kelurahan Teluk Sepang yang sedang menuju ke luar Kelurahan Teluk Sepang. Ketiga seorang pedagang es krim keliling yang baru berjualan di wilayah Kelurahan Teluk Sepang.

Wilayah Teluk Sepang sendiri berbatasan langsung dengan dua raksasa industri, yaitu kawasan pelabuhan PT Pelindo dan PLTU Teluk Sepang yang dikelola PT Tenaga Listrik Bengkulu (TLB). Untuk menuju Teluk Sepang terdapat jalan utama yang diklaim sebagai jalan yang dikuasai oleh PT Pelindo II. Jalan pelabuhan ini menghubungkan antara angkutan komoditas sumber daya alam dan lokasi pelabuhan bongkar muat.

Namun sejak tahun 2012 kondisi jalan ini sudah jauh dari kata layak, sepanjang kurang lebih 5 KM ini sudah berlubang dan dipenuhi genangan air pada saat hujan dan penuh dengan Debu pada saat panas.

Rawan Bencana Gempa dan Tsunami

Sebagai wilayah pesisir yang berada di garis depan Samudera Hindia, Kelurahan Teluk Sepang di Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu, masuk dalam zona merah dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana gempa bumi dan tsunami.

Bahkan, pada tahun ini Kelurahan Teluk Sepang telah resmi dikukuhkan sebagai Tsunami Ready Community yang difasilitasi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mendapatkan pengakuan langsung dari UNESCO-IOC, untuk membangun budaya evakuasi mandiri berbasis mitigasi risiko. Program ini mewajibkan setiap desa yang ditunjuk untuk memiliki rencana evakuasi yang jelas, peta rawan bencana, serta sistem peringatan dini yang aktif.

Dalam satu dialog yang digagas oleh Kanopi Hijau Indonesia, Firmanto, kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD kota menyatakan, bahwa perbaikan jembatan ini telah menjadi skala prioritas sejak tahun 2024 – 2025. Akan tetapi entah mengapa sampai dengan sekarang belum ada realisasinya. Beliau menyarankan untuk mengetahui status anggarannya dapat ditanyakan ke PUPR Kota Bengkulu.

Dengan total penduduk 3549 jiwa, 1.445 anak – anak, 1715 orang dewasa serta jiwa dan 389 jiwa lansia. jika terjadi gempa bumi serta Tsunami dengan kondisi jembatan seperti itu, maka dapat dipastikan korban yang akan jatuh akan sangat banyak.

“Dengan fakta ini mungkin yang perlu dikirimkan ke Teluk Sepang adalah kantong mayat,” kata Harianto,Ketua Posko Lentera.[red/rls]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here