
RAKYAT DAERAH – Tim dosen dari Fakultas Hukum Universitas Bengkulu (FH UNIB) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Sosialisasi Peluang Ekspor dan Penguatan Indikasi Geografis Batik Besurek Bengkulu sebagai Produk Warisan Budaya yang Mendunia.”
Kegiatan ini diselenggarakan di Kampung Batik, Kelurahan Betungan, Kecamatan Selebar, Kota Bengkulu, dan dihadiri oleh para pengrajin Batik Besurek serta masyarakat sekitar.
Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pengrajin mengenai pentingnya Indikasi Geografis (IG) sebagai perlindungan hukum bagi produk khas daerah, sekaligus memperluas wawasan mereka mengenai peluang ekspor Batik Besurek agar dapat bersaing di pasar global.
Tim pengabdi dari FH UNIB menghadirkan pendekatan yang komunikatif dan aplikatif, dengan penyampaian materi yang menyesuaikan kondisi serta kebutuhan para pengrajin agar mudah dipahami dan relevan dengan praktik mereka sehari-hari.

Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan penjelasan mengenai tahapan ekspor produk, sistem pembayaran internasional seperti Letter of Credit (L/C) dan advance payment, serta peran lembaga seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) dalam memfasilitasi perluasan pasar luar negeri. Meski hingga kini Batik Besurek belum pernah diekspor dalam skala besar, kegiatan ini membuka wawasan baru tentang peluang ekspor dalam skala kecil (personal shipment) yang dapat dilakukan secara mandiri oleh pengrajin.
Ketua tim pengabdi, Kiki Amaliah, SH, MH menyampaikan, bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata sinergi akademisi dan masyarakat dalam memperkuat produk budaya Bengkulu.
“Melalui sosialisasi ini kami ingin menumbuhkan kesadaran bahwa Indikasi Geografis bukan hanya perlindungan hukum, tetapi juga pintu menuju nilai ekonomi yang lebih tinggi. Kami berharap Batik Besurek dapat menjadi ikon Bengkulu yang dikenal di pasar internasional,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu pengrajin Batik Besurek di Kampung Batik, Ibu Efrien Mega, mengungkapkan rasa senangnya atas kegiatan ini.
“Kami jadi tahu bahwa ekspor itu tidak harus skala besar. Sekarang kami mengerti proses dan cara menjual batik ke luar negeri secara resmi. Semoga ada pelatihan lanjutan supaya kami bisa lebih siap,” tuturnya.
Kegiatan ini juga menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat, terutama dalam upaya melestarikan budaya lokal serta mendorong kemandirian ekonomi pengrajin Bengkulu. FH UNIB berkomitmen untuk terus menghadirkan program pengabdian yang berdampak langsung pada masyarakat, sejalan dengan misi universitas untuk menjadi pusat pengembangan ilmu hukum dan pemberdayaan daerah.[red]





