
RAKYAT DAERAH – Limbah kulit jeruk yang selama ini identik dengan sampah rumah ternyata memiliki potensi untuk diolah menjadi bahan yang bermanfaat bagi kegiatan pertanian. Bersamaan dengan itu, pemanfaatan mikroorganisme Trichoderma diperkenalkan sebagai salah satu alternatif pengendalian penyakit tanaman yang lebih ramah lingkungan.
Inovasi tersebut diperkenalkan Tim Dosen Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu (UNIB) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Rezeki Bersama di Kelurahan Beringin Raya, Kota Bengkulu, Sabtu (5/9/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 25 anggota KWT tersebut tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga praktik langsung. Peserta diajak memahami bagaimana agen hayati Trichoderma dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan organisme pengganggu tanaman sekaligus mengenal potensi limbah kulit jeruk sebagai bahan pengembangan pupuk hayati cair.
Tim PPM dipimpin Septiana Anggraini, S.P., M.Si., dengan anggota Ela Hasri Windari, S.Si., M.Sc. dan Sri Wulandari, S.T.P., M.Sc., yang merupakan dosen dari Program Studi Agroekoteknologi dan Teknologi Industri Pertanian UNIB.
Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa Agroekoteknologi, yakni Sawfrina Novri Fitriyani, Didi Permana, Gusti Nanda Hutabarat dan Asri Jum’atul Aziza.
Dalam penyampaian materi, tim menjelaskan bahwa Trichoderma merupakan salah satu mikroorganisme antagonis yang dapat dimanfaatkan untuk membantu mengendalikan organisme pengganggu tanaman, khususnya penyakit yang disebabkan oleh patogen tular tanah.
Mikroorganisme tersebut memiliki sejumlah mekanisme dalam menghambat perkembangan patogen, di antaranya melalui kompetisi ruang dan nutrisi, antibiosis, serta mikoparasitisme. Pemanfaatannya menjadi salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan dalam sistem budidaya tanaman yang lebih memperhatikan keseimbangan agroekosistem.
Bagi anggota KWT, materi tersebut menjadi relevan karena berbagai persoalan tanaman juga kerap mereka temui dalam kegiatan budidaya di lahan pekarangan. Diskusi berkembang pada persoalan tanaman terserang hama dan penyakit, bunga dan buah yang gugur, hingga tanaman yang tampak tumbuh baik tetapi belum menghasilkan buah secara optimal.
Peserta juga aktif menanyakan teknis penggunaan Trichoderma, mulai dari penerapannya pada bibit, dosis dan pengenceran, penggunaan pada tanaman dalam polibag, hingga teknik aplikasi Trichoderma dalam bentuk padat maupun cair.
Selain agen hayati, tim dosen memperkenalkan pemanfaatan limbah kulit jeruk sebagai bahan dalam pengembangan pupuk hayati cair. Limbah yang selama ini lebih banyak dibuang sebagai sampah rumah tangga maupun sisa usaha pengolahan buah tersebut dinilai memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali sehingga memiliki nilai guna.
Pendekatan tersebut sekaligus memperkenalkan konsep pertanian yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga memperhatikan pemanfaatan sumber daya lokal dan pengurangan limbah.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik langsung. Tim mendemonstrasikan tahapan pemanfaatan bahan organik dari limbah kulit jeruk serta pengembangan formulasi berbasis mikroorganisme.
Melalui praktik tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan secara teoritis, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai proses yang dapat diterapkan secara sederhana di tingkat kelompok tani.
Ketua KWT Rezeki Bersama, Ismarida, menyambut positif kegiatan yang dilakukan tim Fakultas Pertanian UNIB tersebut. Ia menilai materi yang disampaikan menarik karena memperkenalkan teknologi pertanian dengan memanfaatkan bahan yang relatif mudah ditemukan.
“Kami sangat senang dan tertarik sekali dengan apa yang disampaikan dan teknologi yang diperkenalkan dalam memanfaatkan Trichoderma sebagai pengendali penyakit tanaman, dan limbah kulit jeruk yang bahan bakunya berasal dari limbah yang relatif mudah ditemukan,” ujar Ismarida.
Tim PPM juga menekankan bahwa penggunaan pupuk hayati maupun Trichoderma tidak dapat ditempatkan sebagai solusi tunggal terhadap seluruh persoalan tanaman. Penggunaannya perlu menjadi bagian dari pengelolaan agroekosistem secara terpadu dengan mempertimbangkan aspek budidaya, kondisi lahan dan lingkungan.
Dengan pendekatan tersebut, pemanfaatan agen hayati diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap input kimia sintetis. Sementara itu, pemanfaatan limbah kulit jeruk membuka peluang agar bahan yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi dapat diolah dan dimanfaatkan kembali.
Tim pengabdian berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada tahap pelatihan. Pendampingan lanjutan diperlukan agar teknologi yang diperkenalkan dapat benar-benar diterapkan oleh KWT sesuai dengan kebutuhan dan kondisi budidaya mereka.
Sebagai bentuk dukungan terhadap penerapan teknologi tersebut, tim PPM turut menyerahkan sejumlah alat dan bahan yang dapat digunakan dalam praktik budidaya tanaman. Bantuan tersebut berupa knapsack sprayer, hand sprayer, polibag, tempat persemaian bibit, benih berbagai jenis tanaman sayuran, serta produk Trichoderma dalam bentuk padat dan cair.
Pemberian alat dan bahan tersebut diharapkan dapat membantu peserta melanjutkan praktik setelah kegiatan PPM selesai. Dengan adanya sarana pendukung, anggota KWT memiliki kesempatan untuk mencoba secara langsung teknologi yang telah diperkenalkan.
Pemanfaatan Trichoderma sebagai biofungisida dan limbah kulit jeruk sebagai bahan pengembangan pupuk hayati cair pada akhirnya diharapkan tidak hanya memberikan manfaat dari sisi budidaya tanaman, tetapi juga mendorong kesadaran masyarakat terhadap pemanfaatan sumber daya lokal.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan kelompok tani tersebut diharapkan dapat terus berkembang melalui pola pendampingan yang berkelanjutan. Dengan demikian, kegiatan pengabdian kepada masyarakat tidak berhenti sebagai transfer teknologi, melainkan menjadi langkah awal membangun praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan, mandiri dan berbasis potensi lokal.
Editor: Ong Wie Hocky





