RAKYAT DAERAH – Biasanya memasuki satu muharam, ada tradisi-tradisi unik untuk menyambutnya tahun baru hijriyah. Seperti tradisi Tabut atau biasa disebut Tabot. Tabot merupakan suatu warisan budaya tak benda asal Provinsi Bengkulu.
Tabot berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti “peti atau kotak kayu”. Tradisi ini bertujuan untuk mengenang kepahlawanan cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala, Irak pada tanggal 10 Muharam 61 Hijriah (681 M).
Menurut Sumber Wikipedia, dari keturunan Imam Senggolo Sebagai Pelaku Tabut Imam Senggolo sejak 1994, yang kebetulan juga Sebagai Ketua KKT Bencoolen Ir. Achmad Syiafril (Mamu) Tabut pertama kali dibawa ke Bengkulu oleh Imam Maulana Ichsad pada 1336 Masehi.
Namun, tidak populer kemudian dilanjutkan dan menjadi populer oleh Imam Senggolo atau Syekh Burhanuddin dari Iraq (1400 M yg Wafat 12 April 1427 di Padang Kerbala Bengkulu.)
Gelombang penyiaran Islam ke Wilayah Nusantara dari Jazirah Arab (Madinah-Karbala Irak Iran) sejak abad ke 7 M melalui laut Arabia masuk keluar sungai Indus dengan terlebih dahulu menetap di Punjab.
Arus penyebaran Islam semakin deras pada abad ke 13 dan abad ke 14 masehi, dikarenakan terjadinya penghancuran Baghdad dan pembunuhan masal di Irak oleh bangsa mongol dibawah Hulagu Khan pada sepuluh Februari tahun 1258 M/ 27 Muharram 656 H.
Bangunan-bangunan indah termasuk perpustakaan yang menyimpan naskah seribu satu malam dan kitab lainnya hancur dimusnahkan.
Sebagian pelaut-pelaut ulung dari Punjab melalui sungai Indus, laut Arab berlayar untuk menyiarkan Agama Islam Islam ke Nusantara, sebelum sampai di Bengkulu terlebih dahulu mendarat dan singgah di tanah Aceh, tetapi mereka tidak menetap tinggal di Aceh.
Pada saat itu di Aceh telah berdiri kerajaan Samudera Pasai. Raja yang berkuasa pada waktu itu adalah sultan Mahmud Malik Zahir, raja ke III.
Rombonganpun melanjutkan pelayaran ke arah selatan sehingga sampailah mereka di Bandar Sungai Serut pada hari kamis 5 Januari tahun 1336 M. 18 Jumdil Awwal 736 H).
Mereka yang selamat sampai di Bengkulu hanyalah 13 orang dibawah pimpinan Imam Maulana Ichsad (Keturunan Rasullulah para Zuriat/Sayid /Ahlul Bait) keturunan Ali bin Husain ( Ali Zainal Abidin) bin Ali Bin Abi Thalib.
Di antara para Zuriat/Sayid tersebut diketahui adalah Syech Abdurrahman (Ampar Batu) wafat hari Kamis tanggal 12 April 1336 M/ 21 Sya’ban 736 H. dan Zalmiyah (kramat Gadis) wafat hari Sabtu, 24 Ramadhan 737 H. Perayaan Tabut diteruskan dan dipopulerkan oleh Generasi Zuriat/Sayid Bengkulu Syah Bedan dan keponakannya Syeh Burhanuddin (Imam Senggolo XII) pada abad 17 M, untuk periode berikutnya keturunan Imam Senggolo yang mempertahankan dan melanjutkan tradisi Tabut di Bengkulu.
Perkembangan berikutnya perayaan Tabut juga disemarakkan oleh para tentara yang didatangkan oleh Inggris dari Bengali. Hal tersebut ditulis mamu sebagai berikut: “Skuadron Prancis di bawah pimpinanan Comte Charles Henri d’Estaing meninggalkan Bengkulu, setelah mengambil alih Port Marlbrough dari Inggris selama delapan bulan antara 1759-1760.
Garnizun Inggris kembali menguasai Bengkulu yang diperkuat tentara (sepoy atau Sipay.) Rombongan pertama berasal dari Madras India. Pada 1785. Sepoy Madras ditarik dan digantikan sepoy rombongan kedua dari Benggala, benggali Banglades. Kelompok tentara (Sipay) ini ikut membuat Tabut dengan sekelumit doa’ yang mereka lantunkan adalah sebagai berikut:
Bismillahirrohmanirrohim “yo modo yohawo kupinto mere lamban rohku, rohmu same lamban-lamban, Ipo Dewo dewo mere josoku dube mbun-mbun.
Waktu itu mulai terjadi kekacauan terlebih lagi karena mereka sering bermabuk-mabukan dan membuat hal-hal yang bertentangan dengan agama Islam, sehingga tepat mereka tinggal disebut kampung kepiri (menurut riwayat berarti kampung kafir).
Doa yang dilantunkan tentara (sipay) sangat berbeda dengan doa yang diwariskan Imam Senggolo yaitu memakai bahasa Urdu Punjab Pakistan yang berakar dari bahasa Pesia yaitu: Bismillahirrohmanirrohim saaluree, Mahuree yaa Sahuree,,,,,sarare, Tabute Bencoelene, surarahe Adene.
Kondisi sosial budaya masyarakat, nampaknya juga menjadi penyebab munculnya perbezaan dalam tatacara pelaksanaan upacara Tabut.
Di Bengkulu misalnya, Tabut 17 menunjukkan kepada jumlah keluarga awal yang melaksanakan Tabut, sedangkan di Pariaman hanya terdiri dari 2 jenis Tabut (Tabuik) yaitu Tabuik Subarang dan Tabuik Pasa. Tempat pembuangan Tabut (Tabuik) antara Bengkulu dan Pariaman juga berbeda.
Pada awalnya Tabut di Bengkulu di buang ke laut sebagaimana di Pariaman Sumatera Barat. Namun, pada perkembangannya, Tabut di Bengkulu dibuang di rawa-rawa yang berada di sekitar pemakaman umum yang dikenali dengan nama makam Karbela yang diyakini sebagai tempat dimakamnya Imam Senggolo atau Syekh Burhanuddin.
Kebelakangan ini juga, banyak kritikan dari berbagai elemen masyarakat terhadap pelaksanaan upacara Tabut. Satu hal yang paling mendasar dari semua kritikan tersebut adalah berubahnya fungsi upacara Tabut dari ritual bernuansa keagamaan menjadi sekadar festival kebudayaan belaka.
Ini nampaknya disebabkan oleh kenyataan bahwa yang melaksanakan upacara Tabut adalah orang-orang bukan Syiah. Hilangnya nilai-nilai sakraliti upacara Tabut semakin diperparahkan dengan munculnya Tabut pembangunan (Upacara Tabut yang dimodenkan).
Tradisi Tabot Diawali Pengambilan Tanah
Dalam pelaksanaan tradisi Tabot, terdapat ketentuan yang harus ditaati dalam tahapan-tahapan tertentu, diantaranya mengambil tanah pada malam 1 Muharram dengan mengambil tanah yang dianggap memiliki nilai magis dari dua tempat, yakni Keramat Tapak Paderi dan Keramat Anggut.
Kegiatan ini digelar pada Kamis Malam (26/6) lalu serta menjadi pembuka rangkaian Festival Tabot 2025.

Tradisi Ambil Tanah diawali dengan prosesi ziarah ke makam Keramat. Dalam prosesi tersebut, para pewaris keluarga Tabut, keturunan Syeikh Burhanuddin atau dikenal dengan sebutan Imam Senggolo mengambil tanah dari lokasi makam yang dianggap sakral.
Ketua Keluarga Tabut Imam Senggolo, Bustami, mengatakan bahwa prosesi pengambilan tanah merupakan peringatan memasuki bulan Muharram
“Ambil tanah ini merupakan awal masuknya bulan Muharram. Setiap malam 1 Muharram sellau kita lakukan ritual ini, yang diikuti iringan tabuh dol, dilakukan pawai berjalan kaki menuju lokasi ritual,” ujarnya.
Lebih jauh, ia juga menerangkan, arti pengambilan tanah ini merupakan simbol bahwa manusia berasal dari tanah dan meninggal dunia akan kembali ke tanah.
“Perlu digaris bawahi kita ini berasal dari tanah dan akan kembali lagi ke tanah,” jelasnya.
Selanjutnya, duduk Penja dilakukan di rumah sesepuh pada 5 Muharram sore hari dan Menjara dilaksanakan dua kali pada 6 dan 7 Muharram dengan mengunjungi kelompok keluarga lain untuk beruji alat musik tradisional.
Kemudian, kegiatan meradai dilakukan pada siang hari tanggal 6 Muharram serta Arak Penja dilaksanakan pada malam kedelapan bulan Muharram.
Sedangkan, Arak Serban dilaksanakan pada malam kesembilan Muharram, serta Gam tidak melakukan kegiatan apa pun pada pukul 7 pagi sampai 4 sore. Arak Gedang dilaksanakan pada 9 Muharram. Terakhir, Tabot Terbuang acara terakhir yang dilakukan dengan berkumpul.
Pembuatan Tabut
Kelengkapan alat untuk membuat Tabut antara lain: bambu, rotan, kertas karton, kertas mar-mar, kertas grip, tali, pisau ukir, alat-alat gambar, lampu senter, lampu hias, bunga kertas, bunga plastik dan lain sebagainya. Jika dilihat dari banyaknya alat yang dibutuhkan, maka biaya yang dibutuhkan untuk membuat Tabut sekitar 10-20 Juta rupiah.
Kenduri dan Sesaji
Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kenduri dan sesaji antara lain: beras ketan, pisang emas, tebu, jahe, dadeh, gula aren, gula pasir, kelapa, ayam, daging, bumbu masak, kemenyan dan lain-lain.
Perlengkapan Musik Tabot
Alat-alat musik yang biasanya digunakan dalam upacara Tabot adalah Dhol dan tessa. Dhol terbuat dari kayu tengahnya dilubangi dan kemudian ditutup dengan menggunakan kulit lembu. Dhol berbentuk seperti beduk. Garis tengahnya sekitar 70 – 125 cm, dan alat pemukulnya berdiameter 5 cm dan panjangnya 30 cm. Cara menggunakannya dengan cara dipukul-pukul. Sedangkan Tessa berbentuk seperti rebana, terbuat dari tembaga, besi plat atau alumunium, dan juga bisa dari kuali yang permukaannya ditutup dengan kulit kambing yang telah dikeringkan.

Kelengkapan lainnya
Perlengkapan-perlengkapan lain yang harus dipersiapkan pada setiap unit Tabot adalah bendera merah putih ukuran rumah tangga berikut tiangnya, bendera panji-panji berwarna hijau atau biru yang ukurannnya lebih besar dari bendera merah-putih, bendera putih yang ukurannnya sama dengan panil (beserta tiangnya), tombak bermata ganda diujungnya digantung, duplikat pedang zufikar (pedang Rasulullah) dengan ukuran mini.
Festival Tabot 2025 Resmi Dibuka Gubernur Bengkulu Helmi Hasan
Pembukaan festival Tabot tahun 2025 yang diadakan di Lapangan Sport Center pada Jum’at (27/6) malam berlangsung meriah dan sukses.
Acara dibuka secara resmi Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan dengan memukul dol (bedug) tanda Festival Tabot 2025 yang akan dimulai dari tanggal 27 Juni hingga 7 Juli mendatang.

Turut mendampingi Wakil Gubernur Bengkulu, Mian beserta seluruh Walikota hingga Bupati se-Provinsi Bengkulu, serta tamu undangan dari luar daerah hingga Forkopimda Provinsi Bengkulu.
Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh elemen yang turut memeriahkan Festival Tabot 2025 ini.
“Terima kasih banyak para tamu undangan yang hadir, seluruh panitia dan seluruh peserta UMKM yang memeriahkan Festival Tabot hari ini. Dan seluruh jajaran keamanan TNI-Polri untuk menjaga tempat Festival Tabot ini menjadi aman. Termasuk pemadam kebakaran dan petugas kebersihan yang selalu standby agar festival yang meriah dan ajang silaturahmi,” demikian Helmi Hasan. [011]






