RAKYAT DAERAH – Meski kebijakan Work From Home (WFH) diberlakukan pada 22 Mei 2026, personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bengkulu tetap menjalankan tugas siaga selama 24 jam di Gedung Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops).
Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana akibat cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kota Bengkulu dalam beberapa hari terakhir.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) I Made Ardana mengatakan, meskipun sebagian aktivitas pemerintahan menerapkan sistem kerja dari rumah, pelayanan kebencanaan dan penanganan kondisi darurat tidak boleh terhenti.
“Walaupun ada kebijakan WFH, personel BPBD tetap siaga penuh. Tim kami berjaga secara bergantian di Pusdalops selama 24 jam untuk memastikan setiap laporan masyarakat dapat segera ditindaklanjuti,” ujar Made Ardana.
Menurutnya, keberadaan petugas di Pusdalops menjadi bagian penting dalam sistem penanganan kebencanaan karena berfungsi sebagai pusat pemantauan, koordinasi, dan pengendalian operasi saat terjadi kondisi darurat di lapangan.
Ia menjelaskan, cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang berpotensi menimbulkan berbagai bencana hidrometeorologi seperti banjir, pohon tumbang, genangan air, hingga gelombang tinggi di kawasan pesisir.
Karena itu, BPBD Kota Bengkulu meningkatkan status kewaspadaan dan memastikan seluruh personel Tim Reaksi Cepat (TRC) dalam kondisi siap bergerak kapan saja.
“Cuaca ekstrem yang terjadi akhir-akhir ini berpotensi menyebabkan pohon tumbang, banjir luapan hingga gelombang tinggi di wilayah pesisir. Karena itu kami mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan segera melapor jika terjadi kondisi yang membahayakan,” kata Made Ardana.
Selain menempatkan petugas di Pusdalops, BPBD Kota Bengkulu juga telah menyiapkan berbagai peralatan pendukung penanggulangan bencana seperti perahu karet, perahu fiber, mesin pemotong kayu (chainsaw), kendaraan operasional, serta perlengkapan evakuasi yang siap digunakan sewaktu-waktu.
Kesiapan sarana dan prasarana tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat respons ketika terjadi keadaan darurat di tengah masyarakat.
Made Ardana menegaskan bahwa koordinasi dengan berbagai pihak seperti TNI, Polri, Basarnas, Damkar, Satpol PP, hingga instansi terkait lainnya juga terus dilakukan untuk memastikan penanganan bencana berjalan cepat dan efektif.
Pengalaman menghadapi banjir dan cuaca ekstrem sebelumnya menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat sistem kesiapsiagaan daerah.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak berteduh di bawah pohon besar atau papan reklame saat hujan disertai angin kencang. Warga yang tinggal di kawasan rawan banjir maupun pesisir diminta meningkatkan kewaspadaan dan terus memantau informasi cuaca dari instansi terkait.
Dengan kesiapsiagaan personel yang tetap berjaga selama 24 jam di Gedung Pusdalops, BPBD Kota Bengkulu berharap setiap potensi bencana dapat ditangani secara cepat sehingga risiko terhadap keselamatan masyarakat dapat diminimalkan.[adv]






