Tepis Fitnah, Helmi Hasan Beberkan Capaian Pembangunan Kota Bengkulu

0
10
Gubernur Bengkulu Helmi Hasan.dok_ist

RAKYAT DAERAH – Gubernur Bengkulu yang juga mantan Wali Kota Bengkulu, Helmi Hasan, buka suara menanggapi berbagai informasi dan kritik yang beredar terkait pembangunan di Kota Bengkulu.

Helmi mengatakan, berbagai capaian pembangunan selama dirinya memimpin Kota Bengkulu bukan sekadar klaim, tetapi dapat dilihat secara langsung oleh masyarakat.

Menurutnya, salah satu perubahan yang cukup signifikan terjadi di sektor kesehatan. Helmi menyebut, sebelum dirinya menjabat sebagai wali kota, Pemerintah Kota Bengkulu belum memiliki rumah sakit.

“Pemerintah Kota Bengkulu itu satu pun dulu tidak punya rumah sakit, nggak ada,” ujar Helmi, Jumat (2/10).

Ia mengatakan, setelah mendapat amanah sebagai Wali Kota Bengkulu, Pemkot Bengkulu kemudian memiliki dua rumah sakit, yakni Rumah Sakit Harapan dan Doa serta Rumah Sakit Tino Galo.

“Alhamdulillah ketika Allah berikan amanah sebagai wali kota, Kota Bengkulu sekarang pemerintahnya punya dua rumah sakit, Rumah Sakit Harapan dan Doa, Rumah Sakit Tino Galo,” katanya.

Layanan Gratis untuk Warga Tidak Mampu

Tak hanya membangun fasilitas kesehatan, Helmi juga menyoroti pelayanan yang diberikan kepada masyarakat, khususnya warga yang tidak mampu.

Ia mengatakan, masyarakat yang memenuhi kriteria mendapatkan berbagai pelayanan secara gratis di Rumah Sakit Harapan dan Doa.

“Kalau tidak mampu maka itu menjadi gratis. Sudah sehat nggak boleh pulang sebelum creambath gratis, pedikur, medikur, obat gratis. Jadi itu salah satu fasilitasnya,” ujar Helmi.

Menurunya, program tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memberikan pelayanan yang dapat langsung dirasakan masyarakat.

Dia kemudian menyebut sejumlah pembangunan dan program lain yang menurutnya telah berjalan selama dirinya memimpin Kota Bengkulu.

Di antaranya pembangunan infrastruktur jalan, pembangunan Kota Merah Putih, keberadaan Berendo di kawasan Masjid Taqwa, hingga penyediaan ambulans gratis di tingkat kelurahan.

“Kemudian infrastruktur jalan juga terbangun dan kita juga punya Berendo, di Masjid Taqwa. Ada ambulans gratis yang disediakan di tingkat kelurahan. Dan banyak lagi program-program yang lain,” katanya.

Enggan Bicara Capaian karena Khawatir Riya

Meski membeberkan sejumlah program tersebut, Helmi mengaku sebenarnya tidak ingin terlalu banyak berbicara mengenai capaian selama dirinya menjabat sebagai wali kota.

Ia khawatir penjelasan mengenai berbagai pembangunan yang dilakukan justru dianggap sebagai bentuk membanggakan diri.

“Dan saya paling malas bicara soal ini karena khawatir takutnya seakan-akan riya,” tuturnya.

Namun, kondisi tersebut berubah ketika muncul berbagai informasi atau tudingan yang menurutnya tidak sesuai dengan fakta.

Helmi menilai, dalam situasi seperti itu, memberikan klarifikasi menjadi penting agar informasi yang dianggap keliru tidak berkembang menjadi persepsi di tengah masyarakat.

Helmi kemudian mengutip pandangan Ustaz Abdul Somad mengenai sikap yang perlu diambil seseorang ketika menghadapi fitnah atau informasi yang dianggap tidak benar.

Menurutnya, diam tidak selalu menjadi pilihan yang tepat.

“Ketika ada orang memfitnah kita, ada orang salah menafsirkan sesuatu dan kita tahu itu tidak benar, maka diam bukan satu pilihan yang baik. Perlu disampaikan agar kemudian tidak menambah dosa,” ujarnya.

Ia mengatakan, penjelasan perlu disampaikan agar masyarakat mendapatkan informasi yang lebih lengkap dan tidak hanya mendengar dari satu sisi.

“Jangan ketika kita difitnah, kita dianiaya diam. Kalau kita diam, jadi fitnah merajalela, jadi dosa orang. Kita mesti jelaskan,” katanya.

Menurut Helmi, setelah klarifikasi diberikan, masyarakat dapat menilai sendiri informasi yang disampaikan.

“Setelah kita jelaskan orang tetap fitnah kita, itu kita nggak salah lagi,” kata dia.[red/mcp]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here